Tampilkan postingan dengan label ilmu agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2013

Istighfar para Nabi


Para Nabi dan Rasul adalah manusia pilihan Allah Ta'ala di antara sekian banyak makhluk-Nya. Mereka itu ma'shum (terjaga dari kesalahan) berkat perlindungan Allah bagi mereka. Betapapun tinggi kedudukan, kehormatan dan kemuliaan di sisi Rabb mereka, dan betapapun mereka itu ma'shum, namun mereka tetap menundukan diri di hadapan Allah, di sertai doa dan istighfar karena harapan besar akan ampunan Rabb mereka.
Allah Ta'ala berfirman mengisahkan perihal kedua nenek moyang kita, Nabi Adam dan Hawa :
"keduanya berkata,'Yaa Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi (Al-A'raf [7] : 23)
Allah Ta'ala berfirman mengisahkan perihal Nabi Nuh :
"Dia (Nuh) berkata,'Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak ketahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi," (Hud [11] : 47)
Nabi Nuh juga berucap :
"Ya Rabbku, ampunilah aku, ibu  bapaku, dan siapapun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan . Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran."(Nuh [71] : 28)
Allah Ta'ala juga berfirman mengisahkan perihal Nabi-Nya, Ibrahim :
"Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat,"(Asy-Syu'ara' [26] : 82)
Allah Ta'ala berfirman mengisahkan perihal Nabi-Nya, Dawud :
"…Maka dia memohon ampunan kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat."(Shad [38] : 24)
Allah Ta'ala mengisahkan perihal Nabi-Nya, Sulaiman :
"Dia berkata,'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak di miliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi'." (Shad [38] : 35)
Allah Ta'ala berfirman mengisahkan perihal Nabi-Nya, Musa :
"Dia (Musa) berdoa,' Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.' Maka Dia(Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Qashash [28] : 16)
Bila demikiann kondisi para Nabi 'alaihimus salam , lantas bagaimana dengan diri kita? Dan dimana posisi kita dari bacaan istighfar ini?

Senin, 18 Februari 2013

Perkataan Para Salaf Tentang Istighfar


  1. Abu musa berkata,"kita mempunyai dua pengaman dari siksa; salah satunya telah pergi,
  2. Yaitu keberadaan Rasulullah di tengah kita; tinggalah istighfar bersama kita. Jika istighfarpun pergi, maka binasahlah kita. [Al-Ghazali, At-Taubah ilallah]

  3. Rabi'bin khusyaim berkata,"Tundukanlah diri kalian kepada Rabb kalian dan berdoalah kepada-Nya ketika lapang. Sebab, Allah telah berfirman,'Barang siapa berdoa kepada-Ku ketika lapang, maka Aku akan memenuhi permohonanya ketika sempit. Barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan kepadanya (apa yang di mintanya). Barang siapa merendahkan diri untuk-Ku, maka Aku akan mengasihinya. Dan, barangsiapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. [Minhaj ash-shalihin, hal.951]

  4. Sahl pernah di tanya mengenai istighfar yang menghapus dosa. Ia berkata,"Istighfar pertama adalah istijabah (pemenuhan perintah), kemudian Inabah (penyerahan diri), kemudian taubat. Istijabah adalah perbuatan anggota badan, inabah adalah perbuatan hati, sedangkan taubat adalah tindakan seseorang menghadap Allah dengan meninggalkan makhluk, untuk kemudian memohon ampun kepada  Allah atas kelalaian yang dilakukanya. [Al-Ghazali, At-Taubah ilallah]

  5. Ibnu Jauzi mengatakan,"Sesungguhnya iblis berkata,'Aku binasahkan anak cucu Adam dengan dosa dan mereka membinasahkanku dengan istighfar dan dengan  ucapan,'La ilaha illallah (tidak ada ilah yang berhak di sembah kecuali Allah).' Ketika aku melihat kenyataan ini, maka aku tetapkan hawa nafsu didalam diri mereka, sehingga mereka berbuat dosa dan tidak memohon ampun, sebab mereka mengira bahwa mereka telah melakukan perbuatan baik." [Ibnu Qayyim, Miftah Daris Sa'adah

  6. Qatadah berkata,"Sesungguhnya Al-Qur'an menunjukan kalian akan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, sedangkan obat bagi kalian adalah istighfar."

  7. Ali berkata," Sungguh mengherankan orang yang binasa, sedangkan mereka membawa saranan keselamatan." Ditanyakan kepadanya,"Apa keselamatan itu?" Ia menjawab,"Istighfar."

  8. Ali juga berkata,"Tidaklah Allah Ta'ala mengilhamkan istighfar kepada seorang hamba, sedangkan Dia hendak menyiksanya."

  9. Salah seorang shalih berkata,"Seorang hamba itu berada di antara dosa dan nikmat, tiada yang bisa memperbaiki keduanya kecuali pujian dan istighfar."

  10. Di riwayatkan dari Luqman, bahwasanya ia berkata kepada anaknya,"Wahai anakku, Allah memiliki waktu-waktu dimana Dia tidak menolak hamba yang memohon di dalamnya maka perbanyaklah beristighfar."


  11. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata,"Sungguh beruntung orang yang mendapati banyak istighfar di dalam lembar catatan amalnya."

  12. Abu Minhal berkata,"Tiada pendamping yang menyertai seorang hamba dalam kuburnya yang lebih ia cintai daripada istighfar."

  13. Hasan Al-Bashri pernah berkata,"Perbanyaklah istighfar di dalam rumah-rumah, meja-meja makan, jalan-jalan, pasar dan majelis-majelis kalian. Sebab, kalian tidak mengetahui kapan turunya ampunan."

  14. Seorang Arab Badui berkata," Barang siapa hendak bertetangga dengan kami di tanah kami, maka hendaknya ia memperbanyak istighfar. Sebab, istighfar itu adalah qaththar."Qaththar adalah awan yang mengandung hujan lebat.

  15. Bakr bin Abdillah Al-Muzanni berkata,"kalian banyak melakukan dosa, maka perbanyaklah istighfar. Sebab, apabila seseorang mendapati ada istighfar di antara setiap dua baris pada lembar catatan amalnya, ia akan sangat bergembira karenanya."

  16. Ibnu Taimiyah berkata,"Pernah pikiranku terasa buntu menghadapi masalah yang begitu rumit bagiku, lalu aku beristighfar kepada Allah sebanyak seribu kali, hingga dada terasa lapang dan kerumitan yang aku hadapi terurai. Terkadang aku berada di pasar, di masjid, atau di madrasah, semua itu tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga aku memperoleh keinginanku."

  17. Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada ilah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurusi makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya."
  18. (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi)

Refleksi Bersama Sayyidul Istighfar


Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus, dari Nabi, beliau bersabda:
"Sayyidul istighfar adalah hendaklah engkau membaca,'Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak di sembah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku selalu berada di dalam perjanjian dengan-Mu dan ikrar kepada-Mu, yang akan aku laksanakan sampai batas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atas diriku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.' Barang siapa membacanya di awal siang dengan meyakininya lalu ia meninggal di hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga. Dan barang siapa membacanya di malam hari dengan meyakininya, lalu ia meninggal sebelum pagi hari maka dia termasuk penduduk surga."(HR.Bukhari)
Nabi menyebut doa ini sebagai sayyidul istighfar. Rasulullah mengistimewakannya dengan kedudukan ini, sayyidul istighfar. Setelah merenungkan lafazh-lafazh sitighfar ini berikut makna yang dikandungnya, kita mendapat hal hal berikut:
  • "Ya Allah, Engkau adalah Rabbku."Merupakan pengakuan akan tauhid rububiyyah Allah Ta'ala.
  • "Tidak ada ilah yang berhak di sembah selain Engkau."Merupakan pengakuan akan tauhid uluhiyyah Allah Ta'ala
  • "Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu."Pengakuan seorang hamba akan peribadahan, kerendahan diri, dan ketundukan kepada Allah Ta'ala
  • "Aku selalu berada di dalam perjanjian dengan-Mu dan ikrar kepada-Mu, yang akan aku laksanakan sampai batas kemampuanku."Pengakuan seorang hamba untuk berkomitmen pada jalan yang lurus dan manhaj Rabb semesta alam sebatas kemampuanya dan dengan mengerahkan segenap kekuatan untuk mewujudkanya
  • "Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat."Tindakan seorang hamba berlindung dan membentengi diri dengan Allah dari segenap keburukan, dosa dan kemaksiatan yang di perbuatnya.
  • "Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku."ikrar dan pengakuan seorang hamba akan nikmat-nikmat Allah atas dirinya, kemudian karunia dan kemurahan-Nya atas hamba-Nya dengan melimpahkan berbagai jenis nikmat yang tidak terbilang dan terhitung
  • "Dan aku mengakui dosaku."Pengakuan dan pengikraran seorang hamba akan adanya dosa, baik itu dosa tertentu ataupun dosa secara umum.
"Maka ampunilah aku, sesunggunya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau." Permohonan ampunan kepada Allah Ta'ala dan sikap merendahkan diri di hadapan-Nya.

Dengan memperhatikan makna-makna agung yang di kandung oleh istighfar ini, maka Nabi menyebutnya sebagai sayyidul istighfar.

Selasa, 12 Februari 2013

Mengapa Harus Beristighfar???....

Manusia tidaklah ma'sum (terjaga) dari kesalahan dan perbuatan dosa berdasarkan tabiat kemanusiaanya. Dan lagi, musuh manusia teramat banyak ; diantaranya adalah nafsu yang bersemayam dalam dirinya dan yang menjadikanya indah dalam pandangan matanya, serta menyuruhnya kepada keburukan.
Firman Allah :
"...Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh Rabbku..."
(Yusuf [12] : 53)

Kemudian juga setan, musuh bebuyutan yang selalu mengintai manusia untuk menggiringnya menuju jurang kebinasaan. Selanjutnya hawa nafsu yang selalu menghalang-halangi di jalan Allah. musuh berikunya Adalah dunia dengan segenap tipuan dan perhiasanya. Seorang yang ma'shum adalah orang yang dilindungi oleh Allah. Maka, jauhilah sikap gegabah dan bosan dalam menjalankan ketaatan, serta sikap lalai di hadapan Allah. Karenanya Nabi bersabda seperti di riwayatkan Abu Hurairah :
"Demi Allah, seandainya kalian tidak berbuat dosa tertentu Allah akan menyingkirkan kalian semua dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah dan Allah mengampuni mereka." (HR.Muslim)

Akan tetapi ada satu masalah yang mesti di perhatikan, yakni bahwa banyak orang yang meyakini bahwa istighfar itu hanya di lakukan dengan lisan. Salah seorang dari mereka membaca,"Astaghfirullah (aku memohon ampun kepada Allah)." Namun kemudian tidak ada bekas yang di tinggalkan kalimat ini ada dalam hati, sebagaimana tidak ada pengaruhnya yang bisa di saksikan pada anggota badan. Istighfar semacam ini pada hakikatnya adalah perbuatan para pendusta.

Fudhail bin Iyadh berkata,"istighfar tanpa diiringi meninggalkan perbuatan dosa adalah taubat para pendusta."

Salah seorang shalih menuturkan,"istighfar kita membutuhkan istighfar." Artinya, barangsiapa memohon ampun kepada Allah tetapi tidak meninggalkan kemaksiatan, maka permohonan ampunanya membutuhkan permohonan ampunan pula. Hendaklah kita perhatikanlah bahwa ucapan ini terlontar setelah disampaikanya ungkapan-ungkapan lembut oleh Ibrahim.

Ketika sang ayah menghadapinya dengan ucapan ini,"Pasti engkau akan kurajam," Ibrahim tidak membalasnya dengan perbuatan buruk dan sejenisnya, bahkan hal pertama yang terlintas di dalam pikiranya adalah memohonkan ampun untuknya :
"Dia (Ibrahim) berkata,'semoga keselamatan di limpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabbku.Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.'"(Maryam [19] : 47)

WAHAI RABBKU

Wahai Rabbku, betapapun dosa-dosaku menggunung
Sungguh aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih agung
Jika hanya pelaku kebaikan yang mengharap rahmat-Mu
Maka kepada siapa pelaku kejahatan berlindung
Tiada sarana yang aku punya untuk menuju kepada-Mu
Kecuali ridha-Mu, indahnya ampunan-Mu dan keislamanku

  • Sesungguhnya Al-Qur'an menunjukan kalian akan penyakit dan obat bagi kalian adalah istighfar. (Qatadah)

  • Setiap anak turun Adam itu berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat (HR. Ad-Darimu)


  • Yaa Allah jauhkanlah kami dari segala kesusahan, dan lindungilah kami dari segala kelalaian

Selasa, 14 Februari 2012

Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada



                Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama akan dapat merasakan manfaat bagi semua itu adalah mereka yang melakukanya. Mereka akan merasakan “buah”nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, merekapun selalu lapang dada, tenang, tentram dan damai.
                Ketika diri anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya anda akan mendapat ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang membutuhkan, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya Allah akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan anda!
                Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang di sekitarnya. Dan manfaat psykologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.
Menebar senyum manis kepada orang-orang yang “miskin akhlak” merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi,”...meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri.”
                Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sank Maha Gaib.
                Seteguk air yang di berikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serya Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
                Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan,  sibukan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga hakekatnya.
{padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya . Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan }                                [QS. Al-Lail: 19-21]

Senin, 13 Februari 2012

Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas



                Sang pencipta dan pemberi rezeki Yang Maha Mulia, acapkali mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang pendir yang tak berakal. Maka, apalagi saya, anda dan kita sebagai manusia yang selalu terpleset dan salah. Dalam hidup ini,terutama jika anda seorang yang selalu memberi, memperbaiki, mempengaruhi, dan berusaha membangun, maka anda akan selalu menjumpai kritikan-kritikan yang pedas dan pahit. Mungkin  pula, sesekali anda akan mendapat cemoohan dan hinaan dari orang lain.
                Dan mereka, tidak akan pernah diam mengkritik anda sebelum anda masuk kedalam liang bumi, menaiki tangga kelangit, dan  berpisah kepada mereka. Adapaun bila anda masih berada di tengah-tengah mereka, maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat anda bersedih dan meneteskan air mata, atau membuat tempat tidur anda terasa gerah.
                Perlu di ingat orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah jatuh, dan manusia tidak akan menendang anjing yang sudah mati. Adapun mereka, marah dan kesal kepada anda adalah karena mungkin anda mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak tanduk, atau harta. Jelasnya anda di mata mereka adalah orang yang berdosa yang tak terampuni sampai anda melepaskan semua karunia dan nikmat Allah yang ada pada diri anda, atau sampai anda meninggalkan semua sifat terpuji dan nilai-nilai luhur yang selama ini anda pegang teguh.  Dan menjadi orang yang bodoh, pandir,dan tolol adalah yang mereka inginkan dari diri anda.
                Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan mereka. Bersikaplah laksana batu cadas,tetap kokoh berdiri meski di terpa butiran-butiran salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh karenanya. Artinya, jika anda merasa terusik dan terpengaruh oleh kritikan-kritikan atau cemoohan mereka , berarti anda telah meluluskan keinginan mereka untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan anda. Padahal yang terbaik adalah menjawab atau merespon kritikan mereka dengan menunjukkan akhlak yang baik. Acuhkan saja mereka,dan jangan pernah merasa tertekan oleh setiap tipu daya mereka untuk menjatukan anda. Sebab kritikan mereka yang menyakitkan itu pada hakekatnya merupakan ungkapan penghormatan untuk anda, yakni semakin  tinggi drajat dan posisi yang anda duduki, maka akan semakin pedas pula kritikan itu.
                Betapapun anda akan kesulitan membungkam mulut mereka dan menahan gerakan lidah mereka. Yang anda mampu adalah hanya mengubur dalam-dalam setiap kritikan mereka, mengabaikan solah polah mereka kepada anda, dan cukup mengomentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang di perintahkan Allah,
{Katakanlah (kepada mereka): “matilah kamu karena kemarahmu itu.”}                                (QS. Ali-imran: 119)
                Bahkan anda juga dapat ‘menyumpal’ mulut mereka dengan ‘potongan-potongan daging’ agar diam seribu dengan cara memperbanyak keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap kesalahan anda. Dan bila anda ingin diterima oleh semua pihak, dicintai semua orang, dan terhindar dari cela, berarti  anda telah mengingikan sesuatu yang mustahil terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk terjadi

Minggu, 12 Februari 2012

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri

                {Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meninta agar disegerakan (datang)nya.}                                                                                 (QS. An-Nahl: 1)
                Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah anda mau mengeluarka kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum terwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian  yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu denganya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?
                Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun kebumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyebrangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya.Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti  jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.
                Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan –kecemasan  yang baru  di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak di benarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itupun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang di ajarkan di “sekolah-sekolah setan”.
                {setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu  ampunan  daripada-Nya dan karunia} (QS. Al-baqarah: 268)
                Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di ‘genggaman  yang lain’ tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum tentu ada dan tak berwujud.
                Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab hari ini anda sudah sangat sibuk.
                Jika anda heran maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang brani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit didalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilaj angan-angan yang berlebihan.

Minggu, 28 Agustus 2011

permasalahan akan menjadi sebuat kekuatan

hidup selalu berjalan.......
masalah juga akan terus berdatangan..
begitu juga dengan kebahagiaan.....
semua akan datang silih berganti.....
tapi kesedihan akan selalu ada jika kita selalu lari dari masalah yang membelenggu......
dan tak berusaha untuk mendapatkan solusinya....
ibaratkan kita berjalan dalam neraka.....
seberapa pedihnya siksa dalam neraka tapi kita harus bisa terus berjalan dan suatu saat pasti ada jalan keluar dan semua akan menjadi lebih baik untuk d jalani